sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar
“Selesai
ujian (baca: masalah, cobaan) yang satu, muncul ujian yang lain, bahkan
mungkin tingkat kesulitannya lebih tinggi dari sebelumnya”
Bismillah..
teman-teman saya yang dirahmati Allah, pernah mengalami hal di atas? Jika pernah, berarti kita sama.
Ini persepsi dan opini saya saja. Saya hanya ingin berbagi semoga bermanfaat namun jangan sungkan untuk berdiskusi, ok!
Well.. ketika menghadapi ujian tersebut, umumnya yang dirasakan apa? Takut, sedih, 5L, nyerah, kesal, what the.... dan sebagainya; ini tanggapan negatif. Namun, ada hal yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan sikap negatif itu yaitu “sabar, usaha dan sugesti diri”.
1. Di dalam al qur’an, penggalan surat Al-anfaal ayat 46 – penggalan ayat ini membantu kita memberi sugesti dan menguatkan diri untuk penyelesaian masalah yang kita hadapi. Seperti ini bunyi penggalan ayatnya, “innaallaha ma’a Shoobiirin” – sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar. Ayooo, bagaimana tidak mau bersabar coba?
2. Usaha dan sugesti diri
bukan menggurui tapi dari hal yang akan saya sebutkan ini pun saya pernah melakukannya.
misalnya yang keluar dari mulut hanyalah begini sampai akhir “aduh.. gimana... “haaaa nggak bisa....” “hwaaaaaa (nangis)” “(banting-banting)”
kapan ujiannya teratasi? Kaget boleh kaget, sedih boleh sedih, tapi sekedarnya..
ayo.. calm down.. banyak usaha yang bisa kita lakukan, jika ujian itu rasanya tak bisa diatasi sendiri, maka dengan bantuan teman, keluarga, dosen atau guru (kan?). Niat karena Allah, yakin semua ada jalan keluarnya.
Dalam usaha menanamkan pemikiran ini ke dalam diri sendiri, saya akan mencoba berpikir bahwa ketika ujiannya ditingkatkan oleh Allah itu karena ujian-ujian yang pernah kita lalui sudah terlalu mainstream. Kita bisa lebih dari itu karena Allah tidak menguji kita melebihi kemampuan kita.
Ada resep tambahan “tawakkal” yang mengiringi dalam mengusahakan yang terbaik, bagaimanapun hasilnya kita harus tetap bersungguh-sungguh berserah diri kepada Allah, saya pun masih belajar... ♡♡
Bismillah..
teman-teman saya yang dirahmati Allah, pernah mengalami hal di atas? Jika pernah, berarti kita sama.
Ini persepsi dan opini saya saja. Saya hanya ingin berbagi semoga bermanfaat namun jangan sungkan untuk berdiskusi, ok!
Well.. ketika menghadapi ujian tersebut, umumnya yang dirasakan apa? Takut, sedih, 5L, nyerah, kesal, what the.... dan sebagainya; ini tanggapan negatif. Namun, ada hal yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan sikap negatif itu yaitu “sabar, usaha dan sugesti diri”.
1. Di dalam al qur’an, penggalan surat Al-anfaal ayat 46 – penggalan ayat ini membantu kita memberi sugesti dan menguatkan diri untuk penyelesaian masalah yang kita hadapi. Seperti ini bunyi penggalan ayatnya, “innaallaha ma’a Shoobiirin” – sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar. Ayooo, bagaimana tidak mau bersabar coba?
2. Usaha dan sugesti diri
bukan menggurui tapi dari hal yang akan saya sebutkan ini pun saya pernah melakukannya.
misalnya yang keluar dari mulut hanyalah begini sampai akhir “aduh.. gimana... “haaaa nggak bisa....” “hwaaaaaa (nangis)” “(banting-banting)”
kapan ujiannya teratasi? Kaget boleh kaget, sedih boleh sedih, tapi sekedarnya..
ayo.. calm down.. banyak usaha yang bisa kita lakukan, jika ujian itu rasanya tak bisa diatasi sendiri, maka dengan bantuan teman, keluarga, dosen atau guru (kan?). Niat karena Allah, yakin semua ada jalan keluarnya.
Dalam usaha menanamkan pemikiran ini ke dalam diri sendiri, saya akan mencoba berpikir bahwa ketika ujiannya ditingkatkan oleh Allah itu karena ujian-ujian yang pernah kita lalui sudah terlalu mainstream. Kita bisa lebih dari itu karena Allah tidak menguji kita melebihi kemampuan kita.
Ada resep tambahan “tawakkal” yang mengiringi dalam mengusahakan yang terbaik, bagaimanapun hasilnya kita harus tetap bersungguh-sungguh berserah diri kepada Allah, saya pun masih belajar... ♡♡
Komentar